Sejarah Sa’i Kisah Abadi Siti Hajar dalam Mencari Air Zamzam

Sejarah Sa’i: Kisah Abadi Siti Hajar dalam Mencari Air Zamzam

Sahabat Perjalanan, Saat kita melangkahkan kaki di Mas’a (tempat Sa’i), kita tidak sedang berjalan biasa. Kita sedang melakukan napak tilas salah satu perjuangan paling heroik dalam sejarah kemanusiaan: perjuangan seorang ibu bernama Siti Hajar.

Mengapa kita harus berlari-lari kecil 7 kali bolak-balik? Memahami sejarah Sa’i adalah kunci untuk mengubah ritual fisik ini menjadi sebuah ibadah yang menggetarkan jiwa.

Apa Sejarah di Balik Ibadah Sa’i?

Secara singkat, sejarah Sa’i adalah ritual napak tilas (reenactment) untuk mengenang dan menghormati perjuangan heroik Siti Hajar, ibunda Nabi Ismail AS.

  • Kisah: Saat ditinggalkan di lembah Makkah yang tandus atas perintah Allah, Siti Hajar kehabisan bekal air. Putranya, Nabi Ismail, menangis kehausan.
  • Tindakan: Dalam kepanikan, Siti Hajar berlari bolak-balik sebanyak 7 kali antara bukit Shafa dan bukit Marwah untuk mencari tanda-tanda air atau rombongan kafilah (pertolongan).
  • Hasil: Perjuangan (ikhtiar) maksimal inilah yang diabadikan sebagai Sa’i. Sebagai jawaban atas tawakal beliau, Allah memancarkan air Zamzam secara ajaib dari dekat kaki Nabi Ismail.

Perjuangan inilah yang kita kenang dan hayati dalam ibadah: Sa’i: Perjalanan Iman dari Shafa ke Marwah dalam Jejak Siti Hajar.

Awal Mula: Perintah Allah dan Tawakal di Lembah Gersang (Bakkah)

Kisah ini dimulai bukan dengan kepanikan, tapi dengan ketaatan.

1. Kepatuhan Nabi Ibrahim AS

Atas perintah Allah SWT, Nabi Ibrahim AS membawa istrinya Siti Hajar dan putranya yang masih bayi, Nabi Ismail, ke sebuah lembah gersang di Makkah (disebut Bakkah). Lembah itu tandus, tidak ada tanaman, tidak ada sumber air, dan tidak berpenghuni. Nabi Ibrahim meninggalkan mereka di sana hanya dengan bekal sekantong kurma dan sekantung air.

2. Dialog Penuh Iman (Keyakinan Siti Hajar)

Saat Nabi Ibrahim AS berbalik untuk pergi, Siti Hajar berlari mengejarnya dan bertanya, “Wahai Ibrahim, engkau hendak pergi ke mana? Apakah engkau akan meninggalkan kami di lembah yang tidak ada seorang pun dan tidak ada apa-apa ini?”

Nabi Ibrahim tidak menoleh.

Siti Hajar lalu bertanya dengan cerdas, “Apakah Allah yang menyuruhmu melakukan ini?” Nabi Ibrahim mengangguk, “Ya.”

Mendengar itu, hati Siti Hajar langsung tenang. Beliau mengucapkan kalimat tawakal paling abadi: “Jika demikian, Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan kami.”

Keyakinan inilah yang menjadi fondasi spiritual dari seluruh ibadah Sa’i.

Perjuangan Dimulai: Ikhtiar Maksimal Seorang Ibu

Singkat cerita, bekal kurma dan air pun habis. Air susu Siti Hajar mengering.

1. Bekal Habis, Tangis Ismail Memilukan

Nabi Ismail yang masih bayi mulai menangis hebat, menghentak-hentakkan kakinya ke tanah karena kehausan. Pemandangan ini menghancurkan hati Siti Hajar. Beliau tidak bisa hanya duduk dan pasrah. Beliau harus berikhtiar.

2. Larian 7 Kali: Dari Shafa ke Marwah

Tidak tega melihat putranya, Siti Hajar berlari ke bukit terdekat, Shafa, memanjatnya, dan memandang ke kejauhan, berharap melihat rombongan kafilah atau sumber air. Namun, yang terlihat hanya padang tandus.

Beliau lalu berlari ke bukit di seberangnya, Marwah, dan melakukan hal yang sama. Lagi-lagi, nihil.

Beliau berlari bolak-balik antara Shafa dan Marwah sebanyak 7 kali dalam puncak kepanikan dan ikhtiar seorang ibu, sambil terus berdoa memohon pertolongan Allah.

3. Makna Pilar Hijau (Herwalah)

Berdasarkan pengalaman kami, area yang kini ditandai dengan pilar atau lampu hijau di tempat Sa’i adalah area lembah (wadi) di antara dua bukit itu. Diriwayatkan, saat Siti Hajar berada di lembah rendah tersebut, beliau kehilangan pandangan terhadap Nabi Ismail. Karena cemas, beliau mempercepat langkahnya (berlari-lari kecil atau herwalah).

Inilah mengapa jamaah pria disunnahkan untuk berlari-lari kecil di area pilar hijau, untuk meneladani kecemasan dan kesungguhan Siti Hajar. Gerakan ini kita tiru dalam: Panduan Lengkap Tata Cara Sa’i Sesuai Sunnah.

Keajaiban Tiba: Lahirnya Sumur Zamzam

Inilah puncak dari kisah ini.

1. Pertolongan dari Arah Tak Terduga

Setelah 7 kali perjalanan (usaha maksimal), Siti Hajar (dalam kondisi sangat lelah) kembali ke tempat Nabi Ismail. Betapa terkejutnya beliau, pertolongan Allah justru datang dari arah yang tak pernah ia duga.

Bukan di Shafa (tempat ia memulai), bukan di Marwah (tempat ia berharap). Pertolongan itu datang dari hentakan kaki bayinya. Malaikat Jibril, atas perintah Allah, menghentakkan sayapnya (atau tumitnya) ke tanah di dekat kaki Nabi Ismail, dan air pun memancar deras dari tanah gersang.

2. “Zamzam!” (Berkumpullah!)

Melihat air yang melimpah itu, Siti Hajar (yang khawatir air akan hilang meresap ke pasir) segera berlari membuat tanggul pasir di sekeliling mata air itu, sambil berseru, “Zam, Zam! Zam, Zam!” (yang artinya “Berkumpullah! Berkumpullah!”).

Air inilah yang kita kenal sebagai Air Zamzam, mata air abadi yang menjadi cikal bakal kehidupan dan peradaban di kota suci Makkah.

Pelajaran Abadi: Mengapa Kisah Ini Diabadikan?

Sa’i bukan sekadar ritual mengenang. Ini adalah pelajaran hidup.

  1. Penghormatan: Ibadah Sa’i adalah syariat Allah untuk menghormati dan mengabadikan perjuangan, iman, serta tawakal seorang wanita (ibu) yang luar biasa.
  2. Pelajaran Hidup : Sa’i mengajarkan kita sebuah pelajaran tawakal tertinggi:

“Tugas kita sebagai manusia adalah berlari (ber-ikhtiar) sekuat tenaga antara ‘Shafa’ dan ‘Marwah’ kehidupan kita. Namun, tugas Allah adalah mendatangkan pertolongan (‘Zamzam’) dari arah yang seringkali tidak kita duga-duga.”

Jangan pernah lelah berikhtiar (mencari rezeki, mencari jodoh, mencari kesembuhan). Lakukan “7 kali” (simbol usaha maksimal), lalu serahkan hasilnya (tawakal) kepada Allah.

Kisah ini adalah jantung dari ibadah Sa’i. Rasakan sendiri pengalaman spiritual menapaktilasi jejak Siti Hajar.

Biarkan Muthawif berilmu kami membimbing Anda, menceritakan kisah ini di setiap langkah, agar ibadah Anda lebih khusyuk.

Lihat Paket Umroh kami, dan pahami panduan lengkapnya di Sa’i: Perjalanan Iman dari Shafa ke Marwah.

Pertanyaan Umum (FAQ)

  1. Siapa nama ibu Nabi Ismail AS?

    Ibunda Nabi Ismail AS adalah Siti Hajar (dalam bahasa Arab: هَاجَر, Hājar; dalam Alkitab: Hagar). Beliau adalah istri kedua dari Nabi Ibrahim AS.

  2. Mengapa Sa’i dilakukan 7 kali?

    Untuk meneladani 7 kali perjalanan (bolak-balik) yang dilakukan oleh Siti Hajar saat mencari air antara bukit Shafa dan Marwah (Shafa ke Marwah 1, Marwah ke Shafa 2, dst, berakhir di Marwah ke-7).

  3. Siapa yang menemukan air Zamzam pertama kali?

    Siti Hajar adalah manusia pertama yang menemukannya, setelah air tersebut memancar secara ajaib di dekat kaki Nabi Ismail AS atas kuasa Allah melalui perantaraan Malaikat Jibril.

Share:
Perencanaan & Persiapan
Panduan Umroh
Panduan Haji
Ziarah