hukum walimatus safar

Hukum Walimatus Safar Umroh: Adab, Doa Pelepasan Sesuai Sunnah, & Batasan Bid’ah

Sahabat Perjalanan, di Indonesia, berangkat ke Tanah Suci rasanya “belum afdhol” jika tidak menggelar acara kumpul-kumpul dengan tetangga dan kerabat. Tradisi ini dikenal dengan istilah Walimatus Safar.

Seringkali kita melihat calon jamaah haji atau umroh menggelar tenda besar, mengundang ratusan orang, dan menyajikan hidangan istimewa. Tujuannya mulia: berpamitan dan memohon doa restu.

Namun, tak jarang tradisi ini menimbulkan masalah baru. Ada yang memaksakan diri berhutang demi gengsi acara, atau malah jatuh sakit saat keberangkatan karena kelelahan mengurus tamu.

Lantas, bagaimana sebenarnya pandangan Islam? Apakah ini ajaran Nabi atau sekadar budaya yang memberatkan? Mari kita dudukkan perkaranya dengan ilmu.

Fiqih Walimatus Safar: Bid’ah atau Sunnah?

Secara istilah, tidak ditemukan kata “Walimatus Safar” secara spesifik di zaman Rasulullah SAW. Namun, secara substansi (isi kegiatan), acara ini memiliki landasan dalil yang kuat dan diperbolehkan (Masyru’).

Para ulama menempatkan hukum syukuran sebelum berangkat umroh ini sebagai Mubah (Boleh), bahkan bisa menjadi Sunnah jika niatnya benar. Berikut dasarnya:

  1. Qiyas An-Naqi’ah: Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ menjelaskan kesunnahan An-Naqi’ah, yaitu syukuran (makan-makan) saat seseorang pulang dari safar. Maka, para ulama meng-qiyas-kan (menyamakan) bahwa syukuran saat hendak pergi juga diperbolehkan sebagai bentuk sedekah.
  2. Tradisi Wada’ (Berpamitan): Rasulullah SAW senantiasa berpamitan kepada para sahabat dan mendoakan mereka sebelum melakukan perjalanan jauh.
  3. Tujuan Mulia: Inti acara ini adalah Silaturahmi (mempererat persaudaraan), Istihlaal (saling memaafkan), dan Ith’amut Tha’am (memberi makan). Ketiganya adalah amal shalih yang sangat dicintai Allah.

Awas! 4 Hal yang Membuatnya Menjadi Terlarang

Meskipun asalnya boleh, Walimatus Safar bisa jatuh hukumnya menjadi Makruh bahkan Haram jika tercampur dengan 4 hal berikut:

  1. Israf & Takalluf (Berlebihan): Memaksakan diri menggelar acara mewah di luar kemampuan finansial, bahkan sampai berhutang. Ingat, bekal ibadah di Tanah Suci jauh lebih penting daripada pesta di tanah air.
  2. Riya’ (Pamer): Jika niat hati bukan meminta doa, melainkan ingin pamer status sosial bahwa “Saya mau naik haji/umroh lho”, maka amalan ini tertolak dan menjadi dosa hati.
  3. Bid’ah I’tiqad (Keyakinan Salah): Meyakini bahwa “Kalau tidak syukuran, nanti umrohnya tidak sah atau bakal kualat”. Keyakinan seperti ini bisa menjerumuskan pada syirik kecil.
  4. Mudarat Kesehatan (Critical Point): Kementerian Kesehatan sering mengingatkan bahaya Fatigue (kelelahan ekstrem). Jangan menggelar acara H-1 keberangkatan! Banyak jamaah yang tumbang setibanya di Madinah karena kelelahan mengurus tamu di rumah.

Setelah acara sosial selesai dan tamu pulang, kembalikan fokus Anda ke hubungan privat dengan Allah. Sempurnakan pamitan Anda dengan Panduan Shalat Sunnah Safar di rumah sesaat sebelum melangkah keluar pintu.

Kumpulan Doa Pelepasan (Sesuai Sunnah/Ma’tsur)

Agar acara lebih berkah, gunakanlah doa-doa yang diajarkan Rasulullah SAW (Ma’tsur). Berikut adalah ucapan pamitan umroh dan doa pelepasan yang shahih:

  1. Doa Tamu untuk Calon Jamaah

(Dibaca oleh kerabat yang ditinggalkan untuk yang berangkat)

“Astawdi’ullaha diinaka, wa amaanataka, wa khawaatiima ‘amalik.”

Artinya: “Aku titipkan kepada Allah agamamu, amanahmu, dan penutup amalmu.” (HR. Ahmad & Tirmidzi)

  1. Doa Memohon Bekal Taqwa

(Dibaca oleh tamu/ustadz untuk yang berangkat)

“Zawwadakallahut taqwa, wa ghofaro dzanbaka, wa yassaro lakal khoiro haitsuma kunta.”

Artinya: “Semoga Allah membekalimu dengan takwa, mengampuni dosamu, dan memudahkanmu dalam kebaikan di mana pun engkau berada.” (HR. Tirmidzi)

  1. Doa Calon Jamaah untuk Keluarga yang Ditinggal

(Dibaca oleh yang berangkat)

“Astawdi’ukumullaha alladzi laa tadhi’u wadaa-i’uhu.”

Artinya: “Aku titipkan kalian kepada Allah yang tidak akan menyia-nyiakan titipan-Nya.” (HR. Ahmad)

Tips: Selain doa bahasa Arab di atas, sangat dianjurkan berdoa dalam Bahasa Indonesia agar semua yang hadir mengerti dan bisa mengaminkan dengan khusyuk.

Contoh Susunan Acara Sederhana & Syar’i

Agar tidak melelahkan, buatlah acara yang ringkas, padat, dan khidmat. Durasi maksimal yang disarankan adalah 2 jam. Berikut referensi susunan acara syukuran umroh:

  1. Pembukaan & Tilawah Qur’an: Bacakan ayat tentang haji/umroh (Misal: Ali Imran 96-97).
  2. Sambutan Tuan Rumah (Inti Acara): Fokuskan pada permohonan maaf (Haqqul Adami). Sampaikan permohonan maaf kepada tetangga jika selama ini ada lisan atau perbuatan yang menyakiti.
  3. Tausiyah Singkat: Minta Ustadz menyampaikan materi tentang bekal takwa dan sabar (Cukup 15-20 menit).
  4. Doa Pelepasan Bersama: Membaca doa-doa ma’tsur di atas.
  5. Ramah Tamah: Makan bersama dengan sederhana.

Doa restu manusia sudah didapat, kini saatnya siapkan bekal ilmu perjalanan agar ibadah sah. Pelajari Panduan Shalat & Tayamum di Pesawat karena Anda akan menghabiskan waktu berjam-jam di udara.

Sahabat Perjalanan, jadikan momen Walimatus Safar sebagai ajang “Nol-Nol” (Saling memaafkan dan mengikhlaskan), bukan ajang pesta pora.

Berangkatlah dengan hati yang ringan, tanpa beban hutang pesta, dan tanpa beban dendam sesama manusia. Semoga Allah memudahkan langkah Anda menuju Baitullah.

Sudah siap berangkat? Pastikan seluruh persiapan rohani dan jasmani Anda terjaga bersama bimbingan Surya Haromain.

Share:
Perencanaan & Persiapan
Panduan Umroh
Panduan Haji
Ziarah