Setelah Anda menyelesaikan amalan-amalan utama pada tanggal 10 Dzulhijjah di Mina, seperti melontar Jumrah Aqabah dan Tahallul Awal, perjalanan haji Anda akan memasuki fase berikutnya yang penuh dengan perenungan dan dzikir: Mabit di Mina.
Mabit, atau bermalam, di Mina pada hari-hari Tasyrik adalah salah satu dari Wajib Haji yang akan menyempurnakan ibadah Anda. Panduan ini kami susun agar Anda dapat memahami hukum, waktu, dan amalan-amalan utama selama Mabit di Mina dengan benar dan khusyuk.
Apa Itu Mabit di Mina dan Hukumnya?
Mabit secara bahasa berarti “bermalam”. Dalam manasik haji, Mabit di Mina adalah kewajiban bagi jemaah haji untuk tinggal atau bermalam di area perkemahan Mina pada malam-malam hari Tasyrik.
Menurut jumhur (mayoritas) ulama dari berbagai mazhab, hukum Mabit di Mina adalah wajib. Meninggalkannya tanpa uzur syar’i (alasan yang dibenarkan syariat, seperti sakit parah) akan mewajibkan jemaah untuk membayar denda atau dam.
Waktu dan Tempat Pelaksanaan Mabit
Waktu Pelaksanaan: Hari-hari Tasyrik
Mabit dilaksanakan pada malam-malam hari Tasyrik. Durasi mabit Anda akan tergantung pada pilihan Nafar yang Anda ambil:
- Bagi jemaah yang mengambil Nafar Awal: Anda wajib mabit pada malam tanggal 11 dan 12 Dzulhijjah.
- Bagi jemaah yang mengambil Nafar Tsani: Anda wajib mabit pada malam tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.
Agar Mabit Anda dianggap sah, Anda diwajibkan untuk berada di wilayah Mina pada sebagian besar durasi malam tersebut.
Tempat Pelaksanaan: Kompleks Perkemahan Mina
Mabit dilaksanakan di dalam tenda-tenda yang telah disediakan di lembah Mina. Bagi jemaah haji Indonesia, lokasi perkemahan (maktab) biasanya sudah ditentukan oleh pemerintah dan dapat dikenali dengan mudah.
Amalan-Amalan Utama Selama Mabit di Mina
Hari-hari di Mina bukanlah sekadar untuk berdiam diri di tenda, melainkan untuk diisi dengan ibadah yang agung.
-
Melontar Tiga Jumrah (Ula, Wustha, dan Aqabah)
Ini adalah amalan inti dan paling utama selama hari Tasyrik. Setiap hari (tanggal 11, 12, dan 13 bagi Nafar Tsani), setelah matahari tergelincir (masuk waktu Dzuhur), Anda akan berjalan menuju kompleks Jamarat untuk melontar ketiga jumrah secara berurutan:
- Jumrah Ula (yang pertama/terkecil)
- Jumrah Wustha (yang tengah)
- Jumrah Aqabah (yang terakhir/terbesar) Masing-masing jumrah dilempar dengan tujuh batu kerikil.
-
Memperbanyak Dzikir, Doa, dan Membaca Al-Qur’an
Manfaatkan waktu luang Anda di tenda Mina untuk memperbanyak dzikir, istighfar, membaca Al-Qur’an, dan memanjatkan doa. Hari Tasyrik secara khusus disebut dalam Al-Qur’an sebagai Ayyaman Ma’dudat atau “hari-hari untuk mengingat Allah”.
Keringanan Bagi Jemaah Udzur Syar’i
Islam adalah agama yang memberikan kemudahan. Bagi jemaah yang memiliki uzur syar’i yang berat, seperti sakit parah, lansia yang sangat lemah, atau sedang bertugas merawat orang sakit, diperbolehkan untuk tidak melaksanakan Mabit di Mina. Mereka juga dibebaskan dari kewajiban membayar dam.
Kesimpulan: Malam Penuh Dzikir di Mina
Mabit di Mina adalah fase di mana Anda diajak untuk merenung, berdzikir, dan menyempurnakan haji Anda dengan amalan melempar jumrah. Ini adalah kesempatan untuk merasakan kebersamaan dengan jutaan umat Islam lainnya dalam sebuah perkemahan spiritual terbesar di dunia, meneladani apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya.
Untuk panduan manasik haji lainnya, silakan jelajahi koleksi artikel di blog kami.
