Panduan Hari Tarwiyah (8 Dzulhijjah): Memulai Puncak Ibadah Haji

Panduan Hari Tarwiyah (8 Dzulhijjah): Memulai Puncak Ibadah Haji

Setelah beberapa hari beribadah di Makkah, tibalah saatnya Anda memasuki fase paling sakral dan dinantikan dalam seluruh rangkaian ibadah haji: fase puncak haji. Gerbang menuju fase ini dibuka pada tanggal 8 Dzulhijjah, yang dikenal sebagai Hari Tarwiyah.

Bagi Anda, jemaah haji Indonesia yang mayoritas melaksanakan Haji Tamattu’, hari ini adalah momen di mana Anda akan kembali mengenakan pakaian ihram dan berniat untuk haji. Panduan ini kami susun agar Anda dapat melalui tahap krusial ini dengan persiapan yang benar dan hati yang mantap.

Apa Itu Hari Tarwiyah dan Keutamaannya?

Secara bahasa, Tarwiyah berarti “membawa bekal air”. Dinamakan demikian karena pada zaman dahulu, para jemaah akan menggunakan hari ini untuk mempersiapkan bekal air yang cukup sebelum berangkat menuju Arafah dan Mina yang merupakan daerah gurun pasir.

Hari Tarwiyah adalah hari kedelapan dari bulan Dzulhijjah dan menjadi penanda dimulainya amalan-amalan puncak haji.

Panduan Persiapan untuk Jemaah Haji Tamattu’ (Langkah-demi-Langkah)

Jika Anda melaksanakan Haji Tamattu’, Anda telah menyelesaikan umroh dan berada dalam keadaan halal (tidak berihram) sebelumnya. Pada Hari Tarwiyah, inilah yang harus Anda lakukan:

  1. Mandi Sunnah dan Mengenakan Kembali Pakaian Ihram

Sama seperti saat akan miqat umroh, Anda dianjurkan untuk mandi sunnah, membersihkan diri, dan mengenakan kembali pakaian ihram Anda. Semua persiapan ini dilakukan di tempat Anda menginap (hotel) di Makkah.

  1. Niat Ihram Haji dari Hotel di Makkah

Ini adalah poin yang paling penting. Berbeda dengan ihram umroh yang dimulai dari miqat di luar Makkah, niat ihram untuk haji bagi pelaku Tamattu’ dilakukan dari tempat tinggalnya masing-masing. Setelah shalat sunnah ihram, ucapkan niat haji:

“Labbaikallahumma hajjan.” (Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah untuk berhaji).

Sejak saat itu, Anda resmi dalam keadaan ihram haji dan kembali terikat dengan semua larangannya.

  1. Memperbanyak Talbiyah

Setelah berniat, basahi lisan Anda dengan memperbanyak bacaan talbiyah sambil menunggu jadwal keberangkatan menuju Arafah/Mina.

Perjalanan Menuju Mina (Sesuai Sunnah)

Menurut sunnah Rasulullah SAW, pada Hari Tarwiyah jemaah akan berangkat menuju Mina untuk bermalam (mabit). Di Mina, jemaah akan melaksanakan shalat Dzuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya (dengan cara diqasar tanpa dijama’), serta shalat Subuh keesokan harinya sebelum bertolak ke Arafah.

Praktik Umum Jemaah Indonesia: Langsung Menuju Arafah

Anda mungkin akan mendapati bahwa rombongan haji dari Indonesia (dan banyak negara lain) pada tanggal 8 Dzulhijjah akan langsung diangkut menuju tenda-tenda di Arafah, bukan ke Mina. Jangan khawatir, ini bukanlah sebuah kesalahan.

Praktik ini adalah kebijakan yang diambil oleh pemerintah Arab Saudi untuk kelancaran pergerakan jutaan jemaah. Mengingat pergerakan dari Makkah ke Mina, lalu dari Mina ke Arafah dalam waktu singkat sangatlah sulit, jemaah diberangkatkan lebih awal langsung ke Arafah untuk mempersiapkan pelaksanaan rukun haji terpenting: Wukuf pada tanggal 9 Dzulhijjah.

Kesimpulan: Memasuki Fase Puncak Haji dengan Kesiapan Penuh

Hari Tarwiyah adalah hari persiapan dan peneguhan niat. Bagi Anda jemaah haji Tamattu’, pastikan Anda melaksanakan niat ihram haji dengan benar dari hotel Anda di Makkah. Baik perjalanan Anda selanjutnya menuju Mina sesuai sunnah, ataupun langsung menuju Arafah sesuai jadwal dari maktab, keduanya adalah proses yang sah untuk memulai fase puncak haji Anda.

Untuk panduan Rukun Haji lainnya, silakan jelajahi koleksi artikel di blog kami.